Unggulan

BAB 5

 BAB 5
"Doni, Lia, dan Pertemuan yang tak terduga"


    Setelah acara speed dating itu, doni merasa seperti menjadi orang yang baru saja di berikan kesempatan kedua dalam hidupnya. Meskipun lia tidak langsung memberikan nomer telfonnya , tapi doni merasa jika hubungannya dan lia mulai berkembang dengan cara alami dan tanpa paksaan.
Di dunia yang penuh dengan permainan cinta yang seringkali kaku dan penuh basa-basi, doni  merasakan kenyamanan yang tak terduga dengan lia.
Ternyata dan ternyata , ia tak tau harus respon seperti apa tapi yang jelas ia heran tiba-tiba arman mendapatkan nomer lia dan memberikan nomer lia kepadanya, tanpa lama-lama saat itu juga ia langsung chat lia.

Namun, kenyamanan itu bukan berarti tanpa adanya tantangan. Setelah beberapa kali mengobrol lewat pesan singkat dan telepon, doni mulai merasakan sesuatu yang lebih. Tapi, apakah itu bisa bertahan?


    Satu minggu setelah acara speed dating, doni mecoba untuk mengajak lia bertemu lagi. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalah-kesalahan seperti sebelumnya. 
Tanpa berpikir panjang, doni memilih caffe yang sederhana tapi nyaman di pusat kota, yang menurutnya tempat itu cukup tenang untuk berbicara panjang lebar tanpa adanya gangguan.
Doni datang lebih awal, dengan memakai kaos polos dan celana jeans yang menurutnya Keren, meskipun sebenarnya ia merasa agak ragu apakah tampilannya udah cukup menarik atau belum.
Tiba-tiba, handphonenya bergetar -sebuah notifikasi pesan dari lia.

    "Aku sudah di luar. Siapa tau kita bisa ketemu lebih awal, ya?"

Saat itu doni langsung buru-buru mengambil jaketnya dan keluar kearah pintu, ia melihat lia berdiri di luar caffe. Wanita itu mengenakan gaun simpel yang membuatnya terlihat elegan, tapi tetap terkesan santai.


Lia yang tersenyum ketika melihatnya.


    "Kamu dateng lebih cepat, ya? Aku kira kamu pasti orang yang suka telat gitu."


    "Nggak. cuma aku nya aja yang nggak bisa tidur semalaman mikirin... eh maksudnya caffe ini yang bikin aku datang lebih cepet, soalnya nyaman kalo diem di caffe ini, hehe..." Jawab doni yang terlihat sedikit grogi.


Tetapi lia pun tertawa, dan saat doni melihat ekspresinya membuat ia merasa sedikit lega.


    "Aku suka cara jawab kamu , nggak ada drama gitu."


Doni pun tersenyum malu, merasa senang kalo lia bisa menghargai ketulusan. Doni dan lia berjalan masuk ke dalam caffe, duduk di sudut yang cukup jauh dari keramaian.
Saat memesan kopi, ia masih merasa dag dig dug bahkan lebih kencang dari biasanya.

Percakapannya dan lia di mulai dengan topik ringan seperti tentang cuaca, makanan kesukaan, bahkan hobi masing-masing.
Tapi, setelah beberapa saat, doni dan lia mulai membahas hal-hal yang lebih serius.

    "Aku kadang nggak ngerti kenapa, ya. Setiap kali aku berusaha dekat sama seseorang, selalu ada aja yang nggak pas, gitu. Entah dia yang nggak cocok sama aku, atau emang aku nya yang terlalu aneh. Ya, Mungkin aku nggak pernah jadi diri sendiri kali ya?" Doni yang berkata dengan agak serius, memandang cangkir kopi yang sudah hampir kosong.


Lia mengangguk pelan.

    "Kadang kita memang jadi orang lain karena takut gak di terima. Aku juga gitu, tapi kamu gak perlu ngerasa kayak gitu, kamu sendiri aja, itu udah lebih dari cukup menurutku."


Doni terlihat terdiam sejenak, mencoba mencerna omongan lia.

    "Tapi, siapa sih yang mau terima aku dengan segala kekurangan ini?"


    "Ada. Pasti ada. Cuma kadang, kita butuh waktu untuk menemukannya aja. Aku yakin kamu bakal nemuin orang yang bener-bener cocok. Aku juga nggak sempurna, kok, don. Aku juga pernah gagal dalam hubungan sebelumnya." jawab lia dengan ekspresi yang terlihat mencoba untuk memberinya semangat.


Doni pun melirik lia, merasa ada kedalaman dalam kalimatnya.

    "Aku... aku nggak pernah ngerasa bisa ngomong kayak gini sebelumnya sama orang lain. Makanya, kadang aku ngerasa takut. Takut untuk melangkah."


Terlihat lia tersenyum kembali.

    "Tapi kamu udah mulai melangkah, kan? Kamu udah nyoba buat dating speed, kamu udah ngobrol sama aku, dan kamu juga gak berhenti meskipun banyak kegagalan. Itu yang penting, Don!"


Disitu ia merasa terharu banget mendengar ucapan lia, selain dari parasnya yang cantik , ternyata lia juga orangnya sangat baik, bahkan untuk orang sepertinya.

    "Makasih yah, Lia. udah bikin aku ngerasa aku bukan orang yang cuma hidup untuk kegagalan."


Setelah semua percakapan yang cukup berat tadi , ia melanjutkan percakapan dengan santai, tertawa dan berbagi cerita lucu tentang pengalaman hidup masing-masing. Tapi, tiba-tiba suasana berubah ketika seorang memasuki caffe dan berjalan menuju meja tempat doni dan lia duduk.
Ia merasa ada yang aneh sama pria ini.
Pria itu pun terhenti tepat di depan meja dan menatap lia dengan tatapan serius.

    "Lia, kita perlu bicara." ucap pria misterius itu.

Terlihat raut wajah lia saat itu seperti terkejut, dan doni bisa ngerasain suasana yang sedikit tegang ini.

    "Ini... siapa, Lia?" ucapnya.


Lia menghela nafas panjang, lalu menatap kearah doni.

    "Ini... ardi. Mantan aku." Jawab lia dengan muka yang seperti ada rasa penyesalan.

Doni merasa jantungnya seperti terhenti sejenak.

    "Mantan?" Balasnya dengan nada kecewa.


    "Iya, dia mantan pacarku. Tapi udah lama sih nggak pernah komunikasi lagi." jawab lia yang terlihat cemas.

    "Ardi, aku udah bilang kan, kita udah gak ada apa-apa lagi." sambung lia yang langsung menghadap ardi.

Ardi menatap lia dengan serius.

    "Gue gak percaya itu, lia. gue masih ngerasa kita bisa mulai lagi."


Di posisi itu doni terlihat cuma bisa terdiam, merasa seperti sedang berada di tengah pertempuran yang gak bisa ia hindari. "Apa yang harus gua lakuin sekarang?" dalam hatinya.

Lia berusaha tetap tenang, tapi bisa di liat dari matanya lia sedikit bergetar.

    "Aku gak bisa balik, ardi. aku udah lupain semua tentang kamu. Dan aku harap kamu bisa ngerti itu."

Terlihat ardi yang tampak tidak puas.

    "Lo yakin bisa lupain semua yang udah kita laluin?"


Doni mencoba untuk memandang kearah lia yang saat itu terlihat bingung, sementara ardi masih berdisi di sana, berusaha untuk mengajak lia agar balikan.
sementara itu, doni yang masih terus dalam kebingungan, "apa yang harus gua lakuin, lia?" dalam hatinya.

Makin lama suasana malah makin canggung buat untuknya , doni pun berdiri pelan-pelan memandang ardi dengan tatapan sedikit kesal. Saat itu lia menoleh ke arah doni, dan dalam matanya ada keraguan.

    "Doni... mungkin... lebih baik kamu pergi aja dulu." ucap lia yang menahan air matanya saat itu agar tidak jatuh.


Doni pun menelan ludah, merasa sakit hati, tapi yang pasti ia tau kalo ini adalah momen yang menentukan buat ia kedepannya, maju, maju sekalian atau tidak sama sekali.

    "Gua.. gua nggak akan pergi. Gua nggak mau lari dari situasi kayak gini. Gua akan tetap ada di sini, lia."

Namun, ardi terlihat sangat kesal dan menarik kerah baju doni.

    "Lo yakin? Lo pikir lo bisa bersaing dengan gue?" ucap ardi sambil menggenggam kerah baju doni.

Dengan penuh tekad, doni menatap ardi dan berkata. 

    "Gua gak perlu bersaing sama siapapun disini. Gua cuma pengen jadi diri gua sendiri, dan kalau lia lebih milih gua, lu bisa apa?" Tegasnya ke ardi.

Setelah itu ardi pun melepaskan genggamannya lalu pergi keluar dengan penuh kesal.
Mata lia mulai berkaca-kaca, dan situasi yang tadinya tegang kini kembali seperti biasa, saat itu lia hanya bisa merenung sedih dan terlihat air matanya jatuh tak tertahan, disaat itulah doni mulai berpikir apa jadinya kalo misal tadi ia lebih memilih untuk pergi. Untungnya gua memilih untuk tetap diam berada disampingnya lia.


Komentar

Postingan Populer