Langsung ke konten utama

Unggulan

BAB 5

  BAB 5 "Doni, Lia, dan Pertemuan yang tak terduga"     Setelah acara speed dating itu, doni merasa seperti menjadi orang yang baru saja di berikan kesempatan kedua dalam hidupnya. Meskipun lia tidak langsung memberikan nomer telfonnya , tapi doni merasa jika hubungannya dan lia mulai berkembang dengan cara alami dan tanpa paksaan. Di dunia yang penuh dengan permainan cinta yang seringkali kaku dan penuh basa-basi, doni  merasakan kenyamanan yang tak terduga dengan lia. Ternyata dan ternyata , ia tak tau harus respon seperti apa tapi yang jelas ia heran tiba-tiba arman mendapatkan nomer lia dan memberikan nomer lia kepadanya, tanpa lama-lama saat itu juga ia langsung chat lia. Namun, kenyamanan itu bukan berarti tanpa adanya tantangan. Setelah beberapa kali mengobrol lewat pesan singkat dan telepon, doni mulai merasakan sesuatu yang lebih. Tapi, apakah itu bisa bertahan?     Satu minggu setelah acara speed dating, doni mecoba untuk mengajak lia bertemu lag...

BAB 2

BAB 2
"Doni, Kencan pertama, dan insiden si serbuk sari"


    Setelah insiden "Surat sakti" yang viral di kantin waktu itu, doni sempat berpikir untuk jadi biksu aja , menyepi di gunung tanpa memikirkan cinta. Tapi, berkat dukungan arman (yang malah ikut menertawakan), dia kembali bangkit.

    "Tenang, don. Surat cinta itu cuma pemanasan. Sekarang waktunya ke level berikutnya yaitu Kencan Pertama!"  ucap arman yang terlihat meyakinkan gua untuk tidak terus merenung.

    "Emang ada yang mau sama gua?" balasnua yang agak skeptis.

    "Eh, jangan salah. Lu tau kan si Rani dari ekskul fotografi? dia kan cewek baik-baik, lu ajak ngobrol pasti nyambung, percaya deh sama gua!" kata arman.


    Rani, cewek berkacamata dengan kamera di tangannya kemana pun dia pergi.
Orangnya ramah, suka senyum, dan... yang penting dia belum tahu sejarah kegagal gua.

Malam itu doni dan arman yang sedang mengatur rencana tersebut dan memberikan nama misi tersebut yaitu "misi kencan pertama".
Berbekal informasi dari arman, ia memberanikan diri mendekati rani saat istirahat.
Seperti biasa, dengan strategi yang sederhana, bermodalkan nekat dan ngobrol soal hal-hal yang rani sukai yaitu seputar fotografi.
Dengan langkah penuh percaya diri, ia menghampiri rani yang sedang memotret bunga-bunga di taman sekolah.

    "kamu suka foto-foto, yah?" ucap doni yang menghampiri rani dari samping.

Rani mengangkat wajahnya dan tersenyum.

    "Iya, soalnya bunga itu cantik kalau diabadikan di momen yang tepat." balas rani.

doni pun ngangguk sok bijak. "Iya, sama kayak cinta. Harus diabadikan sebelum layu."

Rani mengerutkan dahi. Dan doni pun langsung sadar kalo ia kayaknya salah ngomong, tapi ajaibnya rani malah tertawa kecil.

    "Kamu lucu juga yah. Ngomong-ngomong, kamu mau coba motret juga?"

Percakapan berlanjut. Dalam waktu singkat, doni pun berhasil mengajak rani untuk ngobrol-ngobrol santai di taman kota hari sabtu nanti.

    "Gila, don! ternyata berhasil juga cara gua!" ucap arman ketika mendengar kabar itu.
    "Kencan pertama, don. Lu harus tampil beda. Jangan bikin malu kayak kemarin."  lanjutnya.

Betapa gak sabarnya doni menunggu-nunggu hari sabtu tiba, dan ia mencoba untuk kembali meyakinkan dirinya sendiri agar tidak berakhir seperti kejadian kemarin-kemarin saat di kantin sekolah.

    Sabtu pun tiba. Doni sudah mandi tiga kali sejak pagi, memakai kemeja putih (walau agak sempit di bagian perut), menyemprotkan parfum yang baunya nyaris bisa bikin orang pingsan, dan tidak lupa juga untuk membeli setangkai bunga mawar merah, sebagai simbol cinta klasik.

"cewek suka kejutan romantis," katanya sih.

Doni dengan penuh keyakinan sambil bercermin dan merapikan kemeja gua dan berusaha meyakinkan kembali "Kali ini pasti lancar."  ucapnya di depan cermin.

    Doni pun tiba di taman lebih awal dari rani.
Ia berusaha untuk duduk tenang sambil memegang bunga, tapi keringat dingin mulai membasahi dahinya. 
    "santai, don. Jangan panik." bisiknya pada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, rani pun datang dengan senyum manisnya.
    "maaf yah don, telat!" ucap rani 

    "Nggak apa-apa kok, ran!" jawab doni sambil buru-buru berdiri, menyodorkan bunga dengan penuh percaya diri.
    "Ini buat kamu, ran!"

Rani memandang bunga itu sejenak, lalu hidungnya mulai kembang kempis.

    "Uhuk, uhuk...!" Rani pun batuk lalu bersin dengan keras. Lalu sekali lagi, dan lagi.

    "ran, kamu kenapa?" doni yang nampak panik langsung melihat muka rani.

    "A-a-aku... alergi serbuk sari, don!"  Jawab rani sambil terus bersin.

Matanya mulai memerah dan hidungnya pun ikut memerah seperti badut.

Doni pun kebingungan, dan melongo. Mawar merah yang tadinya romantis kini berubah menjadi senjata pemusnah kebahagiaan.
Dalam keadaan panik, ia mengambil keputusan tercepat di hidupnya.

    "Bentar ya, aku buang bunganya!" dengan gaya lari ala atlet, ia pun melempar bunga tersebut ke tempat sampah terdekat.

Namun, tepat ketika bunga itu melayang ke udara, seorang bapak tua berteriak, "WOY! itu bunga saya buat istri saya!!!"

Doni pun berhenti di tempat, menatap bapak itu dengan wajah sedikit pucat. Rani, yang masih bersin-bersin, menatapnya dengan penuh kebingungan. Orang-orang mulai memperhatikan. Situasi itu... kacau balau.

    Lagi dan lagi , gagal kembali.


    Setelah insiden taman kota, doni duduk sendirian di bangku taman, menatap kosong ke kejauhan. Rani pulang lebih awal karena tak tahan dengan alerginya.

    "Kenapa sih gua nggak pernah berhasil?" gumamnya dengan penuh keluh.

Kali ini rasanya lebih menyakitkan lagi , gimana gak menyakitkan yang awalnya ia sudah mendapatkan lampu hijau tapi malah berakhir dengan keapesan , ia yang sempet berharap semuanya akan berjalan lancar tapi ternyata tidak.
Namun, tiba-tiba arman menelpon.

    "don, santai aja. Rani pasti ngerti kok. Lagian, cinta sejati gak di tentukan sama bunga atau kencan pertama. Kalau lu gagal, ya coba lagi! Cinta itu kayak fotografi, kadang kita butuh banyak jepretan sampai dapat foto yang sempurna."

Seketika doni pun langsung terdiam. Kalimat itu memang sederhana, tapi ada benernya juga. Sambil tersenyum kecut, ia berkata pada dirinya sendiri,

    "Ya udah. Kali ini gagal lagi. Tapi setidaknya, gua udah berani buat nyoba hal-hal baru."

Komentar

Postingan Populer