Langsung ke konten utama

Unggulan

BAB 5

  BAB 5 "Doni, Lia, dan Pertemuan yang tak terduga"     Setelah acara speed dating itu, doni merasa seperti menjadi orang yang baru saja di berikan kesempatan kedua dalam hidupnya. Meskipun lia tidak langsung memberikan nomer telfonnya , tapi doni merasa jika hubungannya dan lia mulai berkembang dengan cara alami dan tanpa paksaan. Di dunia yang penuh dengan permainan cinta yang seringkali kaku dan penuh basa-basi, doni  merasakan kenyamanan yang tak terduga dengan lia. Ternyata dan ternyata , ia tak tau harus respon seperti apa tapi yang jelas ia heran tiba-tiba arman mendapatkan nomer lia dan memberikan nomer lia kepadanya, tanpa lama-lama saat itu juga ia langsung chat lia. Namun, kenyamanan itu bukan berarti tanpa adanya tantangan. Setelah beberapa kali mengobrol lewat pesan singkat dan telepon, doni mulai merasakan sesuatu yang lebih. Tapi, apakah itu bisa bertahan?     Satu minggu setelah acara speed dating, doni mecoba untuk mengajak lia bertemu lag...

BAB 3

 BAB 3
"Doni, Media sosial, dan Akun palsu berujung bencana"


    Seperti tidak bisa melupakan kejadian kejadian aneh sebelumnya, bahkan setelah insiden bunga di taman kota yang berujung alergi parah, kali ini doni memutuskan bahwa ternyata dunia nyata itu terlalu kejam untuknya.

    "Dunia nyata terlalu banyak resiko, man. Kalau gak alergi, ya gua salah ngomong. Kalau nggak salah ngomong, ada aja kejadian aneh yang bikin gua malu sendiri." keluhnya kepada arman.

Arman, sahabat yang selalu punya jawaban (walau sering nggak masuk akal), langsung angkat bicara.

    "Don, lu salah. Sekarang itu eranya online dating. Udah nggak zamannya nembak langsung. Kebanyakan cowok sekarang sukses dapetin cewek lewat media sosial!"


    "Lu yakin nggak bohong, man?" jawabnya dengan skeptis, karena masih trauma dari nasib cintanya.


    "Demi kehormatan gua. Nih, contohnya..." Arman membuka instagram di handphonenya, lalu menunjukkan foto seorang cowok dengan caption: 'Dia baper gara-gara DM gua.'


    "Lah, ini foto lo sendiri, man."  doni yang langsung menatap muka arman.

Arman tersenyum penuh misteri. 
    "Percaya aja, don. Pokoknya lu mulai aja dari instagram."


    Transformasi akun instagram doni pun di mulai saat itu juga , dari nol sampai ke sok keren seperti yang di sarankan oleh sahabat supernya yaitu arman.

Malam itu, ia mulai mengatur akun instagramnya . Foto profil diganti dengan pose penuh gaya, hasil 300 jepretan di depan kaca kamar mandi. Kemeja putih, rambut disisir rapih, plus ekspresi sok misterius yang malah keliatan seperti orang bingung. Kalo kata arman sih

    "Cowo yang misterius itu bikin cewek penasaran. Percaya gua!"

Nggak lupa juga ia memoles bio di instagramnya dengan tulisan :

    "Penyuka kopi, buku, dan obrolan santai. Sedang mencari inspirasi hidup."

Padahal kenyataannya ia belum pernah minum kopi karena lambungnya lemah, bahkan buku terakhir yang ia baca itu komik/manga, dan inspirasi hidupnya cuma bertahan sampai akhir bulan. Tapi demi cinta, ia rela jadi "Anak senja dadakan."

    Setelah mengatur akun instagramnya dan terlihat rapih juga diam-diam doni sudah punya target untuk kali ini, target sekarang yaitu Gita si Traveller yang ngehits, dengan akun barunya yang lebih "Keren,"
gua pun mulai stalking cewek-cewek di instagram. Tidak lupa di dampingi oleh arman dengan semangat seperti pelatih sepak bola.

    "Liat nih, don. Gita. Cantik, suka travelling, feednya estetik. Lu coba DM aja. Ingat, mulai dari hobi dia." anjuran dari seorang coach arman.


    "Nggak aneh, kan? Gua takut dikira freak nantinya, masa tiba-tiba DM." jawab doni yang sedikit kurang percaya diri.


    "Nggak, santai aja. karena emang begitulah cara kerja internet terutama social media. Kalau cewek seneng travelling, cowok-cowok kayak kita harus pura-pura suka alam. Tulis aja yang manis-manis." sabda dari seorang coach.


Doni menarik napas panjang, lalu memberanikan diri untuk mengetik.

    "Hai, aku lihat kamu suka travelling. Punya rekomendasi tempat bagus buat healing nggak?" Tap... hentakan jempol tangan yang menekan tombol enter dan pesan pun terkirim.


Saat itu doni langsung melemparkan handphonenya ke kasur, panik setengah mati.

    "Gila, gua nge-DM cewek cantik! Kalo nggak di bales gimana ini, man?"


Seperti biasa template dari seorang arman, menepuk pundaknya.

    "Santai aja, Don. Cewek suka cowok pemberani kok." ucap arman.


Ajaibnya, beberapa jam kemudian, Gita membalas pesan yang ia kirim.

    "Oh, banyak! Kamu suka gunung atau pantai?"


Doni pun langsung melompat dari kasur.

    "Gila! Man. Dia bales!"

Arman pun ikut melompat, padahal yang nge-DM bukan dia.    

    "Lanjut, don! ini yang namanya momen, dan inilah momen lu!"


    Obrolan via chat pun terus berlanjut tanpa terasa, karena seperti biasa, cukup lancar untuk hal cakap percakapan. 
Di obrolanpun gita terlihat ramah dan menyenangkan, seperti karakter cewek dalam novel-novel romansa. 
Even, Dia yang biasanya gugup kalo ngomong langsung, merasa lebih percaya diri lewat chat.

    Gita: "Aku suka gunung, sih. Tapi pantai juga asik. Kamu udah pernah kemana aja?"

Doni berpikir keras. Tempat paling jauh yang pernah ia kunjungi hanyalah warung soto di kampung sebelah. Tapi, demi menyamakan vibe dengan gita, ia pun membalasnya dengan:

    Doni: "Pernah ke bali, sih. Nonton matahari terbenam di tanah lot sambil ngopi. Damai banget."


Arman yang mengintip dari belakang langsung berbisik,

    "Gila, don. Padahal lu belum pernah ke luar kota."


    "Udah diem, man. Ini namanya demi cinta!" jawab doni sambil mengusik arman untuk mejauh.

Makin lama, obrolan dia dan gita makin intens. Doni mulai jatuh hati pada pada sosok gita yang terlihat seolah sempurna di matanya. Bahkan ia berangan-angan: 'Siapa tau gita bisa jadi jodoh gua? hehe.'


    Tapi lagi, lagi dan lagi. Akhir yang selalu tidak bisa kita sebagai manusia prediksi, seakan akan bayangan yang selama ini ia angankan itu malah bertolak belakang dengan kenyataannya.
Seminggu kemudian, momen itu datang.
Arman kembali datang kerumah doni sambil membawa berita yang bikin napasnya doni nyaris berhenti saat itu juga.

    "Don! Lu nggak akan percaya siapa yang lu DM!" teriak arman dengan wajah sedikit kaget.


    "Apaan, sih? Gua lagi chat sama Gita nih." Doni menatap layar handphonenya sambil senyam senyum.

Arman pun saat itu langsung melempar handphone miliknya ke pangkuan gua. Di layar, terlihat akun instagram Gita (yang asli). Jumlah followersnya 15ribu. Feedsnya juga benar-benar sama, tapi akun yang doni DM hanya punya 200 followers.

    "Man... ini apa maksudnya?" Doni yang mulai pucat.

Arman tertawa sambil menggenggam perutnya.

    "Lu udah ketipu, Don! Itu akun palsu. Udah gitu, lu tau nggak siapa yang bikin?"

*Notifikasi handphone gua berbunyi.

    "Gita": "BTW, maaf ya. ini akun buat seru-seruan. Gua aslinya cowok. Nama gua Arif." 


Seketika ia pun langsung menjatuhkan handphonenya ke lantai. Hatinya begitu hancur berantakan. 
Ternyata lebih sakit lagi begini rasanya ketimbang di timpa kesialan oleh wanita asli. 

    "ARMAAAANNN!!!" Doni yang berteriak seperti orang kesurupan. Arman jatuh ke lantai, ngakak sampai kehabisan napas.

Entahlah, kejadiannya begitu cepat dan bego nya doni demi mengejar yang namanya cinta sampai-sampai tidak memastikan terlebih dahulu.

    Malam itu, ia kembali merenung lagi namun kali ini di balkon kamarnya. Dia merasa seperti karakter utama di film film komedi yang selalu sial. Tapi di tengah rasa malunya, ia mulai menyadari sesuatu:
    "Cinta itu emang penuh kejutan. kadang bikin seneng, kadang bikin malu setengah mati. Tapi kalau nggak nyoba, gua nggak akan pernah tahu."

Malam itu pun gua berjanji, meskipun gagal lagi, dia gakan pernah menyerah. Karena ia yakin "Suatu hari nanti, pasti ada yang beneran suka sama gua... tanpa perlu ada drama seperti ini."

Dan dari kejauhan, suara arman masih terdengar.

    "Don, besok kita bikin akun tinder aja, ya? siapa tau lebih gampang!"


Komentar

Postingan Populer